MEDAN – Pemerintah semakin serius menggeser posisi kelapa sawit dari sekadar komoditas ekspor mentah menjadi pilar utama pembangunan industri nasional. Hal ini ditegaskan Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza saat mengisi kuliah umum di Institut Teknologi Sawit Indonesia (ITSI) Medan, Rabu (11/2/2026).
Mengusung tema “Dari Kebun ke Industri”, Faisol membuka wawasan para akademisi dan mahasiswa bahwa masa depan sawit ada di hilirisasi.
“Sudah saatnya kita berhenti mengekspor CPO mentah. Sawit harus kita olah sendiri, kita kelola sendiri, dan kita nikmati sendiri manfaat ekonominya,” ujar Faisol di hadapan civitas akademika ITSI Medan.
200+ Produk Turunan, Sawit Jauh Lebih dari Minyak Goreng
Salah satu poin utama yang disorot Faisol adalah ragam produk turunan sawit yang mencapai lebih dari 200 jenis. Mulai dari kosmetik, bahan farmasi, hingga produk pangan modern, semuanya bisa dihasilkan dari sawit.

“Banyak negara menaruh harap pada sawit Indonesia. Jangan sampai kita hanya jadi pemasok bahan mentah. Ini momentum untuk mengambil peran sebagai penguasa pasar global produk olahan sawit,” tegasnya.
Faisol menambahkan, di era Presiden Prabowo, industrialisasi berbasis sumber daya alam menjadi prioritas. Sawit adalah garda terdepan dari strategi besar itu.
Sumut dan ITSI: Garda Depan Industrialisasi Sawit
Sebagai daerah dengan sejarah panjang perkebunan sawit, Sumatera Utara dinilai memiliki posisi strategis. Faisol menyebut keberadaan PTPN sebagai perusahaan pelat merah tertua di sektor ini harus menjadi lokomotif hilirisasi.
Rektor ITSI Medan, Purjianto, merespons positif. Pihaknya menyatakan kesiapan penuh untuk mencetak SDM unggul yang siap terjun ke industri hilir sawit.
“Kami tidak hanya mendidik mahasiswa soal teknis perkebunan, tetapi juga membekali mereka dengan wawasan hilirisasi dan kewirausahaan berbasis sawit. Ini bentuk kontribusi nyata ITSI terhadap visi besar pemerintah,” ujar Purjianto.
Swasembada Pangan: Jangan Impor Terus, Olah Sendiri!
Di agenda yang sama, Faisol Riza juga menghadiri seminar nasional di Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan. Di hadapan para akademisi ISARAH, ia mengangkat topik ketahanan pangan dan peran industri dalam negeri.
Ia menyebut, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar: mengolah komoditas pangan lokal secara mandiri.
“Sumut itu kaya raya. Ada singkong, ubi jalar, talas, sagu, kakao, kelapa, bahkan minyak atsiri. Tapi mengapa produk olahannya masih minim? Tepung saja kita masih impor. Padahal bahan baku ada di sini,” kritik Faisol.
Ia merinci, pertumbuhan industri pangan saat ini baru 4,8% dengan kontribusi terhadap ekonomi 8,9%. Pemerintah menargetkan pada 2026, pertumbuhan naik ke 5,23% dan utilisasi pabrik dari 57% menjadi 74%.
“Ini bukan target muluk. Dengan kolaborasi antara pemerintah, kampus, dan industri, semua bisa dicapai,” optimisnya.
Skenario Global: Perang, Krisis Rantai Pasok, dan Urgensi Swasembada
Faisol tak hanya bicara soal data, ia juga mengupas ancaman eksternal yang nyata. Konflik geopolitik yang meluas dari Ukraina, Timur Tengah, hingga ketegangan baru di kawasan Arktik dan Asia, disebutnya dapat mengganggu rantai pasok global, termasuk pangan.
“Belanda saja sudah meminta warganya menabung bahan makanan. Ini sinyal bahaya,” ungkap Faisol.
Menurutnya, langkah Presiden Prabowo mendeklarasikan swasembada pangan pada 2025 bukan sekadar slogan. Ia menyebut capaian stok beras 3 juta ton adalah bukti awal keberhasilan.
“Tapi jangan cepat puas. Ancaman belum usai. Justru sekarang kita harus akselerasi. Hilirisasi sawit dan penguatan industri pangan adalah jawaban atas ketidakpastian global,” pungkasnya.
Kolaborasi Kampus-Industri-Pemerintah Jadi Penentu
Faisol menutup rangkaian acara dengan pesan tegas, Indonesia tidak boleh jadi penonton di negeri sendiri. Dengan kekayaan alam melimpah dan dukungan sumber daya manusia yang kompeten, ia yakin Indonesia bisa keluar dari jebakan negara berkembang dan melompat menjadi kekuatan industri dunia.
“Sawit dan pangan adalah senjata kita. Jangan berikan senjata itu ke orang lain. Kita sendiri yang harus menggunakannya, untuk kemakmuran bangsa sendiri,” tandasnya. (Red)






