Konsolidasi Jelang Muktamar, Aroma Persaingan Internal NU Mulai Menghangat di Sumatera Utara

News55 Dilihat

MEDAN – Dinamika menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 mulai memunculkan pergerakan politik organisasi di berbagai daerah, termasuk di Sumatera Utara. Sejumlah langkah konsolidasi yang melibatkan struktur organisasi NU dari tingkat wilayah hingga cabang mulai dilakukan di tengah menghangatnya pembicaraan mengenai arah dukungan terhadap kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang.

Dalam beberapa hari terakhir, para Rois Syuriyah dan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Sumatera Utara menerima undangan untuk menghadiri pertemuan konsolidasi yang mengatasnamakan Rois Aam PBNU dan Sekretaris Jenderal PBNU. Undangan tersebut beredar melalui aplikasi WhatsApp pada 13 dan 14 Juni 2026.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, komunikasi kepada para pengurus cabang dilakukan oleh Sekretaris PWNU Sumatera Utara, Zulkifli Sitorus, bersama Wakil Ketua PWNU Sumatera Utara, Masdar Limbong. Sementara undangan kepada para Rois Syuriyah PCNU dikirimkan atas nama Rois Syuriyah PWNU Sumatera Utara, KH Bahauddin Nasution.

BACA JUGA :  4 Terdakwa Kurir 30 Kg Sabu Divonis Seumur Hidup, JPU Banding

Pertemuan tersebut kemudian digelar pada Senin (15/6/2026) di Hotel Wing, Medan. Sekitar 60 peserta yang mewakili 22 PCNU dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Utara hadir dalam kegiatan yang berlangsung secara tertutup tersebut.

Selain para pengurus cabang, sejumlah pengurus PWNU Sumatera Utara juga tampak hadir, antara lain Rois Syuriyah KH Bahauddin Nasution, Wakil Rois Syuriyah Prof. Nisful Khoir, Wakil Ketua PWNU Masdar Limbong, Sekretaris PWNU Zulkifli Sitorus, serta Wakil Sekretaris Sawaluddin Nasution.

Dari unsur PBNU, hadir Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut tokoh NU nasional, Sulaiman Tanjung.

Meski tidak dipublikasikan secara terbuka, sejumlah peserta menyebutkan bahwa forum tersebut berisi pemaparan mengenai perkembangan terkini di lingkungan PBNU, termasuk berbagai dinamika yang berkembang menjelang pelaksanaan Muktamar NU. Dalam arahannya, Gus Ipul disebut menjelaskan situasi organisasi saat ini sekaligus pentingnya menjaga soliditas struktur NU menghadapi agenda lima tahunan tersebut.

BACA JUGA :  Polres Karo Tangkap Residivis Narkotika di Kabanjahe, Amankan Barang Bukti Sabu

Namun, pelaksanaan konsolidasi yang secara khusus mengundang para pimpinan PCNU memunculkan beragam penafsiran di kalangan warga NU. Sebagian melihatnya sebagai langkah organisasi yang wajar untuk memperkuat komunikasi antara PBNU dan struktur daerah. Akan tetapi, sebagian lainnya menilai kegiatan tersebut tidak dapat dilepaskan dari konteks politik organisasi menjelang Muktamar.

Penilaian itu muncul karena konsolidasi dilakukan ketika pembicaraan mengenai figur-figur yang berpotensi memegang peranan penting dalam kepemimpinan PBNU periode berikutnya semakin mengemuka. Di berbagai daerah, dukungan terhadap tokoh-tokoh tertentu mulai menjadi bahan diskusi di lingkungan pengurus maupun kader NU.

Dalam forum tersebut, Zulkifli Sitorus mengajak seluruh PCNU di Sumatera Utara untuk tetap kompak dan membulatkan dukungan sesuai arahan yang disampaikan oleh Rois Aam dan Sekretaris Jenderal PBNU. Pernyataan itu dinilai sebagian peserta sebagai sinyal bahwa konsolidasi tidak hanya berorientasi pada penguatan organisasi, tetapi juga terkait dengan pembentukan kesamaan sikap politik menjelang Muktamar.

BACA JUGA :  Tuntut Permintaan Maaf, IPTI Sumut Kecam Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon

Terlepas dari berbagai tafsir yang berkembang, pertemuan di Medan tersebut menunjukkan bahwa suhu politik internal NU mulai meningkat beberapa bulan sebelum Muktamar digelar. Konsolidasi yang melibatkan jajaran pengurus wilayah dan cabang menjadi indikasi bahwa proses komunikasi dan pemetaan dukungan telah berjalan lebih awal.

Bagi banyak kalangan nahdliyin, tantangan terbesar bukan sekadar menentukan arah kepemimpinan organisasi ke depan, melainkan memastikan bahwa dinamika kontestasi yang berkembang tetap berada dalam koridor tradisi musyawarah dan persaudaraan yang selama ini menjadi ciri khas NU. Dengan demikian, perbedaan pilihan menjelang Muktamar tidak berkembang menjadi friksi yang dapat mengganggu soliditas organisasi di tingkat daerah maupun nasional. (Red)