Semrawutnya Lalu Lintas Medan, Budaya ‘Lawan Arah’ Membahayakan Pengendara

News64 Dilihat

MEDAN — Kondisi lalu lintas di beberapa ruas jalan utama ibu kota Sumatra Utara ini semakin hari dinilai semakin semrawut. Lebih memprihatinkan lagi, aksi nekat melawan arah kini bukan lagi pelanggaran langka, melainkan sudah bergeser menjadi “rutinitas” harian yang dianggap lumrah oleh sebagian pengendara.

​Pantauan di beberapa titik rawan seperti di kawasan Jalan Ringroad/Gagak Hitam, Jalan Sisingamangaraja, sekitar Flyover Jamin Ginting, hingga kawasan Aksara Jalan Karma Wisata, Jalan Brigjen Katamso dan lainnya menunjukkan pemandangan yang bikin elus dada dan membahayakan.

Setiap pagi dan sore hari saat jam sibuk, puluhan sepeda motor, bahkan terkadang angkutan kota (angkot), dengan santai melaju di lajur yang salah. Budaya lawan arah adalah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa siapa saja di jalan raya.

BACA JUGA :  Baru Dilantik Jadi Sekdaprov Sumut, Togap Simangunsong Langsung Bahas KEK Danau Toba dengan Luhut Binsar Pandjaitan

​”Sudah seperti tidak punya rasa takut. Kita yang jalurnya benar malah dipelototi kalau tidak mau mengalah. Kalau kecelakaan, siapa yang mau tanggung jawab?” keluh Irfan (34), salah seorang pekerja kantoran yang setiap hari melintasi kawasan Jalan Ringroad.

​Fenomena lawan arah ini jelas menjadi momok menakutkan bagi pengguna jalan yang tertib. Keberadaan para pelanggar ini sering kali memicu rem mendadak yang berujung pada tabrakan beruntun, atau benturan langsung dari arah depan (laga kambing).

BACA JUGA :  Kinerja Plt Kadishub Suriono Diapresiasi, Penataan Lalu Lintas Kota Medan Membaik

​Anehnya, pelanggaran ini dilakukan secara berjamaah. Jika ada satu kendaraan yang memulai, kendaraan lain di belakangnya akan langsung mengekor, menciptakan barisan “jalur ilegal” baru yang memakan ruang jalan pengendara dari arah berlawanan. Alasan klasik seperti “biar cepat”, “putaran balik terlalu jauh”, atau “cuma dekat kok” selalu menjadi pembenaran atas tindakan egois ini.

​Tindakan melawan arah dianggap hal biasa karena minimnya sanksi tegas di titik-titik tertentu secara konsisten. ​Masyarakat Kota Medan kini mulai jenuh dan berharap ada tindakan nyata yang memberikan efek jera, bukan sekadar imbauan atau razia musiman.

Pemasangan pembatas jalan (barrier) yang lebih kokoh, penempatan personel di titik buta (blind spot), hingga optimalisasi kamera ETLE (Tilang Elektronik) di kawasan rawan sangat dinantikan.

BACA JUGA :  Pemindahan 4 Pulau Aceh Ternyata Diajukan Edy Rahmayadi Saat Jadi Gubsu

Karena itu, membangun budaya tertib berlalu lintas tidak cukup hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga membutuhkan kesadaran bersama bahwa setiap keputusan di jalan raya selalu berdampak pada keselamatan orang lain.

Selain itu, kita semua juga harus sepakat bahwa jalan raya adalah ruang bersama. Oleh sebab itu, keselamatan di dalamnya hanya dapat terwujud jika pengguna jalan mau memulai dari dirinya sendiri dengan memilih tetap berada di jalur yang benar. (Red)